Friday, October 20, 2017
Buwas: Penjara Dikelilingi Buaya Bisa Dibangun di Sumut
JAKARTA - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso mengatakan bandar-bandar narkoba
yang ada saat ini menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama mereka
untuk memasok dan mengedarkan narkoba. Hal ini karena bisnis narkoba di
Indonesia sangat menggiurkan. Dengan modal sedikit bisa mendapatkan
keuntungan besar.
"Untuk di China, harga sabu itu per kilogram Rp 200 juta. Kalau tiba
di Indonesia, harga jualannya bisa sampai Rp 1 miliar hingga Rp 2
miliar," kata Budi Waseso saat melakukan pemusnahan barang bukti narkoba
di Lapangan Merdeka, Medan, Sumatera Utara, Kamis 19 Oktober 2017.
Buwas sapaan akrab Budi Waseso, menjelaskan Sumut dan Aceh, termasuk
Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, merupakan pintu
masuknya narkoba dari luar. Sebab, letak wilayahnya sangat dekat dengan
negara tetangga.
Menurut Buwas, pihaknya mencatat saat ini ada 72 jaringan pengedar narkotika internasional dari 11 negara yang menjadi penyuplai narkoba ke
Indonesia. Jumlah tersebut tidak terlepas dari status Indonesia yang
dijadikan para penyuplai sebagai pangsa pasar yang besar dan menjadi
laboratorium untuk melepas produk-produk baru.
"Semua jenis narkotika laku di sini (Indonesia). Dari 72 jaringan
internasional pengedar narkotika di Indonesia itu, mereka menyisihkan 10
persen dari keuntungan perdagangan untuk operasi regenerasi pangsa
pasar," ungkapnya.
Buwas menyebut, jumlah bandar narkoba yang telah ditembak mati
petugas BNN di Indonesia masih sangat sedikit. Padahal, menurutnya,
bandar narkoba adalah pelaku pembunuh massal yang memiliki jumlah korban
jutaan manusia.
"Kurang banyak. Korbannya ribuan, dan baru puluhan bandar yang mati.
Banyak masyarakat meninggal akibat mereka (bandar narkoba)," sebutnya.
Untuk memberikan efek jera dan menekan angka peredaran narkoba
di Indonesia, pemerintah diharapkan segera merealisasikan penjara
khusus pelaku narkoba dengan pengawalan dan pengawasan menggunakan
buaya.
"Penjara buaya bisa dibuat di Sumut. Saya harap Pemerintah segera realisaikan," ucapnya.
Dalam pemusnahan barang bukti narkoba di Lapangan Merdeka, ada
sebanyak 191 kilogram sabu dimusnahkan beserta ganja seberat 520
kilogram, dan 43.450 butir ekstasi. Barang haram ini merupakan barang
bukti hasil tangkapan di wilayah Sumut dan Aceh.
"Ini hasil tangkapan dari operasi gabungan kita. Untuk sabu, produksi dari Cina," Buwas menerangkan.
Buwas juga menjelaskan, saat ini produksi ganja terbesar dari Aceh
dan telah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk Papua, Sumut,
Sulawesi, Jakarta, dan Bogor. Sementara sebanyak 43.450 butir pil
ekstasi yang dimusnahkan BNN merupakan produksi dari Belanda.
"Ganja itu dari Aceh, kalau ekstasi ini produk dari Amsterdam,
Belanda. Seperti yang kita temukan persis dari 1,2 juta butir pil
ekstasi yang lalu. Dengan tertangkapnya barang haram ini, kita sudah
menyelamatkan 43 ribu lebih generasi,” ungkapnya.
Buwas juga mengungkapkan, penyalahgunaan narkoba semakin
luas sehingga diperlukan peran dari Pemerintah Daerah dalam
memberantasnya. Terutama peredaran narkotika di tempat hiburan malam.
"Kalau tidak ditindak tegas, maka ini akan berkembang bebas.
Penyalahgunaan semakin besar, dan kita semua harus peduli terhadap
permasalahan narkotika, karena ini menyangkut ancaman generasi bangsa,"
Buwas menandaskan.
Tags
# berita
# indonesia
About Dobrak Mimpi
Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design. The main mission of templatesyard is to provide the best quality blogger templates.
recent
Location:
Indonesia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






No comments:
Post a Comment