Prosesi bersejarah pada Kamis disaksikan langsung oleh jutaan orang yang tumpah ruah di dan sekitar Sanam luang. Kerumunan massa juga terjadi di sejumlah replika di sekitar Bangkok dan provinsi-provinsi lain di seluruh negeri.
Sementara, di dunia maya, setiap warga Thailand dilaporkan menyaksikan jalannya prosesi melalui berbagai saluran.
Dalam memimpin jalannya prosesi demi prosesi, Raja Maha Vajiralongkorn didampingi oleh Putri Maha Chakri Sirindhorn dan anggota kerajaan lainnya.
Kemegahan prosesi kremasi mendiang Bhumibol tak menghentikan air mata rakyat Thailand. Mereka masih saja terisak dan meratapi kepergian Bhumibol yang dijuluki pemersatu Thailand.
"Saya sangat mencintai raja. Saya tak bisa berkata-kata. Hati dan pikiran kami ditujukan pada 'ayah' kami tercinta," ujar Piyarporn Supaporn (53), ibu rumah tangga dari Rayong.
Malichan Puangchompoo (69) yang berasal dari Yasothon mengatakan, "Ini merupakan momen bersejarah dalam hidup saya, saya tidak pernah membayangkan bisa sedekat ini dengan krematorium..."
Lalu lintas di ibu kota Thailand dikabarkan cukup lancar, kecuali di sejumlah titik yang menjadi pusat peletakan karangan bunga.
Upacara kremasi akbar mendiang Bhumibol ditaksir menelan biaya US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,2 triliun.
Bhumibol wafat pada Kamis, 13 Oktober 2016. Pemimpin monarki terlama di dunia itu mengembuskan napas terakhir pada usia 88 tahun setelah sebelumnya sejak pekan lalu ia mendapat perawatan akibat menderita gagal ginjal.
Bhumibol naik takhta pada 9 Juni 1946, menggantikan sang kakak, Raja Ananda Mahidol. Kala itu ia berusia 19 tahun dan tercatat menjadi raja ke-9 dari Dinasti Chakri atau dijuluki pula Raja Rama IX.
Ia berkuasa selama 70 tahun. Sepanjang monarki Thailand, sosok Bhumibol disebut sebagai satu-satunya raja terpopuler di kalangan rakyatnya.
Era Bhumibol dimulai ketika Thailand tengah dilanda masa-masa kritis menyusul perkembangan negara itu menjadi monarki konstitusional. Kehadirannya kala itu dianggap sebagai pemersatu bangsa, membangkitkan kembali semangat monarki yang dinilai telah lama ditinggalkan.






No comments:
Post a Comment